Trilogi “Kisah Perangkai Bintang”
24 April 2011 pada 09:42 | Ditulis dalam Dua Bintang | 2 KomentarKaitkata: Bidadari, Bintang, harmoni, Ilalang, impian, Puisi, Seruni
~Aku, Ilalang, dan Seruni~

Sejenak bertandang ke duniamu,
Dan kulihat luas pematang yang hijau,
Dengan bunga menjuntai kuning emas,
Ilalang tegak melambai-lambai kepadaku.
Di bawahnya menaungi bunga-bunga lain,
Seperti menjaga dari sengatan matahari,
Agar berbunga sempurna kuning cerah,
Seruni tersenyum manis kepadaku.
Mereka mengajakku bersantai bersama,
Menikmati senja dan belaian udara,
Sambil menunggu Sang Bidadari tiba, Lanjutkan Membaca Trilogi “Kisah Perangkai Bintang”…
~Melodi Senja~
24 Januari 2011 pada 04:30 | Ditulis dalam Bebas, Puisi | Tinggalkan KomentarKaitkata: Cakrawala, Ilalang, Jejak, Kenangan, melodi, Puisi, senja
Meski dua musim tlah terlewati,
Hingga ilalang kembali bersemi,
Sisakan lambaian diantara sepi,
Tiada hirau ia terbang tinggi.
Kulampiaskan jeritan harap hampa,
Pada mega memayungi senja,
Namun ia berlalu bersama Surya,
Kukejar asa tapi semua percuma.
Kuseret langkah di ladang bisu,
Tak peduli tersesat semak liku,
Beranjakpun terjerat duri kelu,
Apakah ilalang tega menahanku.
Seranai nada alunan tanpa irama,
Dawaipun belenggu suara hatinya,
Masih adakah ia simpan kisah,
Saat kita lewati senja nan indah.
Panggilan Ilalang
10 November 2010 pada 13:10 | Ditulis dalam Bebas, Puisi, Sajak Untuk Kawan II | 2 KomentarKaitkata: Friends, Ilalang, Puisi, senja
Deras rintik hujan tak terbendung,
Walau angin tak menggulung mendung,
Meski Surya tak sempat membusung,
Tiada lagi hawa sejuk terusung.
Apakah air tiada lagi tenang,
Apakah api tiada lagi benderang,
Apakah mereka kini saling serang,
Ataukah selama ini terkekang.
Coba dengarkan seruan Ilalang,
Diantara luasnya rumput pematang,
Dia hendak dongengkan tanah juang,
Yang kini lupa kita kenang…
Sajak Untuk Kawan II
14 Agustus 2010 pada 11:44 | Ditulis dalam Puisi, Sajak Untuk Kawan II | Tinggalkan KomentarKaitkata: Friends, Ilalang, Puisi
Mereka memanggilku,
Mereka menyeruku,
Di tepi jalan itu aku berhenti,
Dari pencarian yang tak berarti.
Sejenak kupalingkan,
Tapi mereka tetap menyeru,
Aku berlalu tanpa harapan
Bayang-bayang menyertaiku,
Mereka merayuku,
Mereka menggodaku,
Kembali sejenak aku berhenti,
Dari waktu yang berlalu pergi.
Mereka selalu tersenyum,
Mereka selalu berbahagia
Gundah dan laraku terbungkam,
Mengisi kekosongan lama.
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.






