Memori Yang Hilang: Apa Salahku? #1
17 Januari 2010 pada 14:30 | Ditulis dalam Cerita, Curhat | 6 KomentarKaitkata: Cerpen, Cinta Pertama, Eli, Memori
Jombang, Oktober 2002, musim rambutan datang dan pohon rambutan dirumahku berbuah lebat dan nampak sudah ranum buahnya, itu terlihat dari warna kulitnya yang sudah mulai nampak oranye kemerah-merahan. Di beranda rumah kala sore itu, kumpulan buah rambutan itu menggelantung dan bergoyang-goyang tertiup angin. Uhh, begitu menggoda pikirku. Langsung saja ku menuju pohon tersebut. Ku melihat keatas sejenak lalu kucoba memanjatnya. Dua batang utamanya memudahkan merambat perlahan keatas meski lumut keraknya kadang membuat pijakanku terasa agak licin. Ku pindah dari satu cabang ke cabang yang lain dan memetik sebanyak-banyaknya karena memang pohon rambutanku berbuah banyak.
Di samping rumah ku asyik menikmati buah rambutan yang baru kupetik beberapa menit yang lalu. Manis dan enak, rambutan aceh memang mantab. Ternyata buah yang kupetik tadi lumayan banyak, satu tas plastik berisi penuh, lalu ku berpikir sebaiknya buah ini kubagikan saja besok ke teman-temanku di SMP A Wahid Hasyim Tebuireng.
Kebetulan sekali jam pertama kosong. Langsung saja kubagikan ke teman-teman, seluruh isi kelas jadi ramai berebutan maklumlah sebagian besar mereka anak pesantren dan dari luar Pulau Jawa. Di tengah keramaian tersebut, pandanganku tertuju pada salah temanku yang kusuka, Elli namanya. Dia begitu manis, dan kulihat gelak tawanya diantara teman-temanku yang lain. Lalu kuambil beberapa rambutan yang berukuran cukup besar lalu kuberikan kepada Elli yang dari tadi belum berhasil mendapatkan buah karena teman-teman semua asyik berebut. Sontak seluruh kelas jadi rame mengelu-elukanku. Ku jadi serba salah lalu cepat memindah tangankan rambutan tersebut ke temanku dan kembali duduk. Tepat di sebelahku tapi baris yang tempat duduk yang lain, Eli menatapku sejenak dan berkata, “Suwun (terima kasih), Bus”, tepat saat itu aku langsung menoleh dan kulihat matanya yang bulat besar dan aku terdiam terbius pandangan yang indah. Aku langsung berkata ya kepadanya sambil menganggukkan kepala. Di belakangku dua sahabatku, Nanang dan Lukman, tertawa kecil melihatku salah tingkah. Sementara Robby dan Faiz asyik saja menikmati rambutan. Sedang Dennys menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kami berlima.
Jam istirahat kedua, aku dan Faiz seperti biasa langsung menuju Pulau pohon Palem (tempat nongkrong kami berenam) sambil makan buah yang asamnya minta ampun, nama buahnya sudah lupa. Saat itu teman-teman yang lain belum kumpul mungkin sedang di kantin. Setelah buah tersebut hampir habis, ku ingin beli lagi di kantin sekalian memanggil keempat sobatku yang lain. Tepat di depan perpus, salah seorang teman kelasku, Prapto, tiba-tiba datang mendekatiku dan langsung memukul wajahku dengan tangannya yang besar. Aku jatuh tersungkur, dia dan teman-temannya menertawaiku lalu dia mengancam,”Ojo sok kon nang kelas (Jangan sombong kamu di kelas), awas yo koq awakmu nglamak maneh nang kelas (awas saja kamu jika kamu menjengkelkan seperti itu)”. Ku terdiam sambil menahan rasa sakit di pipiku. Aku tidak mampu membalas, karena saat itu aku termasuk orang yang takut berkelahi dan lagipula dia bersama teman-temannya tergolong memiliki reputasi sebagai anak nakal di smpku itu.
6 Komentar »
Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.







Aku dukung! Buat Biografi supaya tidak ada lagi kenangan yang hilang.
Karena kenanganlah yang memberi kita banyak pelajaran.
Comment by widya— 17 Januari 2010 #
wah pak bus… kecil2 udah cinta2n tpi sip teruskanlah hehehe
Comment by wewed— 18 Januari 2010 #
ayo pak cpetan critax d lnjutin…
Comment by zalipunya— 18 Januari 2010 #
lha lu d tipuk gtu trus reaksi tmn2 lu gmn?? mosok diem ae??
aftersixhour
Comment by krismeskeos— 12 Februari 2010 #
Ndak yg bantu, mereka takut berurusan dgn anak itu…
Tapi ya enjoy ajja… ^^/
Comment by Dani— 12 Februari 2010 #
[...] aku iseng membahas masa SMP dulu (baca part #1), “Bud, bener ya kalo kita cinta sama cewek kita gak bisa berkata-kata, kayak kamu sama Ning. [...]
Pingback by Memori Yang Hilang: Apa Salahku? #2 « Pak Buz— 14 Juli 2011 #